Jumat, 17 Maret 2017

Resensi buku "AYAH... Kisah Buya Hamka"


Resensi Buku

Judul Buku  : Ayah… Kisah Buya Hamka
Penulis         : Irfan Hamka
Penerbit       : Republika
Cetakan       : I. Mei, 2013
Tebal           : xxvii + 321 halaman
ISBN           : 978-602-8997-71-3

Buku “AYAH… Kisah Buya Hamka” karya Ifran Hamka, bercerita tentang sosok Buya Hamka yang bukan hanya berperan sebagai seorang ayah bagi keluarganya. Akan tetapi, Buya Hamka juga seorang ulama, cendikiawan, politikus, negarawan, sastrawan, bahkan terkenal dengan ilmu beladiri yang mumpuni.

Bagian satu, pembaca diajak mengenang nasehat-nasehat bijak Buya Hamka tentang kehidupan berumah tangga. Nasehat yang sangat indah bagaimana mempertahankan keluarga agar tidak cerai, suami-istri harus takut kepada Allah. Serta bagaimana menasehati anak agar tidak menjadi anak yang pandai berbohong. (hal 1-11).

Selanjutnya pembaca diajak menelusuri perjuangan Buya Hamka demi menyelamatkan keluarga. Semua dilakukan untuk menghindari cengkraman penjajah Belanda. Pada bagian dua ini penulis juga mengisahkan peran Buya Hamka sebagai seorang ayah, suami, guru ngaji, pegawai negeri, politikus dan pendekar silat. Jiwa keberanian, ketegasan, serta kewibawaannya tetap tidak pernah hilang. (hal 13-55). 

Pada bagian ini, penulis mengisahkan dengan apik bagaimana Buya Hamka dapat berdamai dengan Jin di rumah baru mereka. Keberanian Buya Hamka dalam melakukan dialog dengan makhluk ghaib membuat jin tersebut tunduk kepada perintah Buya Hamka. Kisah tegang sekaligus kocak dalam bagian tiga ini. (hal 57-77). 

Kisah bagaimana Buya Hamka, istrinya (Ummi Siti Raham) dan penulis naik Haji. Peristiwa yang sangat menegangkan, dari Baghdad menuju Mekkah ketika melewati gurun Sahara mereka dikejar oleh angin topan gurun pasir, kemudian tentang supir mereka yang tertidur saat menyetir dan rintangan ketika mereka hampir diterjang air bah di pegunungan granit hitam. Dengan detail dijelaskan penulis dalam bagian empat dan lima. (hal 79-169). 

Di bagian ini penulis begitu piawai menguras air mata pembaca. Bagian enam dan tujuh penulis menjelaskan tentang keluasan pemahaman Buya Hamka terhadap ilmunya agama (tasawuf). Selanjutnya penulis mengisahkan bagaimana akhlak Ummi yang santun dalam bersilaturrahim dengan keluarga. Kesetiaan, ketegaran, kehebatan Ummi dalam menghadapi fitnah dan hinaan. Namun perempuan yang tegar itu terlebih dahulu meninggalkan Buya Hamka. (hal 171-214).

Khusus bagian delapan ini, penulis mengisahkan tentang “si kuning” kucing kesayangan Buya Hamka. Sampai ketika Buya Hamka meninggal si Kuning duduk di atas kuburan majikannya itu. (hal 215-227).

Bagian sembilan, pembaca akan dibuat kagum dengan jiwa besar dan pemaaf seorang Buya Hamka kepada tiga tokoh nasional Soekarno, Mr. Moh. Yamin dan Pramoedya Ananta Toer. Soekarno yang memasukkan Buya Hamka penjara selama dua tahun empat bulan. Namun, diakhir hayat Soekarno, Buya Hamka lah yang mengimami shalat jenazahnya. Mr. Moh. Yamin dari tokoh nasionalis yang menentang keputusan Buya Hamka ketika UUD’45 dengan Dasar Negara Berdasarkan Islam. Namun ketika Mr. Moh. Yamin sakit, Buya Hamka menjenguknya dan membacakan syahadat ketika sakaratul maut. Pramoedya Ananta Toer, melalui koran Harian Bintang Timur memfitnah buku Roman Buya Hamka. Tapi, Buya Hamka berkenan menerima anaknya Pram yang ingin belajar Islam kepada beliau. (hal 229-272).

Pada bagian akhir, penulis mengisahkan bagaimana Buya Hamka mengalami sakit paru-paru, ginjal, otak dan akhirnya meninggal. Dengan dishalatkan oleh ribuan jama’ah sampai dengan proses pemakamannya. (hal 273-287). 

Diresensi oleh Sofian Hadi, Guru Pesantren Al-Ikhlas Taliwang Sumbawa Barat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar