Senin, 24 Juni 2019

Bekal Terbaik Menyambut sang Buah Hati



Oleh: Fadhil Sofian Hadi


Anak adalah amanat dari Allah. Kehadirannya menjadi impian setiap pasangan setelah untaian kata ‘sah’ keluar dari para saksi di acara akad pernikahan. Keharuan mulai menyelimuti raga pasangan yang halal tersebut. Dalam beberapa bulan masa penantian, harapan disandarkan kepada-Nya, menunggu kehadiran sang buah hati yang dinanti, lahir membawa tangis bahagia bagi kedua orang tua. 

Penantian pun tiba. Sang buah hati lahir dengan selamat. Tentunya, berbagai persiapan telah dipersiapkan oleh ayah dan bunda. Persiapan yang bukan hanya bersifat penampilan jasmani (materi) saja akan tetapi pembekalan adab (spiritual) dan akhlaknya juga paling diutamakan. Agar sang buah hati kelak dapat tumbuh seimbang, baik bekal jiwa dan bekal raganya.

Menjadi sebuah kewajiban yang tidak bisa di tawar-tawar bagi kedua orang tua untuk membekali sang buah hati, kususnya di era modern seperti saat ini. Zaman dimana adab dan akhlak mulai digerus oleh pengaruh pergaulan bebas yang memvirus di luar batas kewajaran. Di samping kerusakan adab dan pergaulan, pun di era sekarang tidak sulit mencari tips mendidik sang buah hati. 

Terdapat banyak buku dan terapi parenting yang dengan mudah didapatkan oleh orang tua sebagai bekal mendidik sang buah hati. Bahkan pelatihan, workshop dan seminar parenting sekarang menjadi sebuah kebutuhan dalam keluarga. Hal ini memang tidak dapat dipungkiri, karena pada jaman millennial, mendidik sang buah hati sangat penting, untuk menghindari berbagai pengaruh, terutama pengaruh gadget digital dan kecanduan game yang marak melanda anak didik kita.

Dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid di dalam bukunya Prophetic Parenting (buku recommended untuk para orang tua) menuliskan tentang tanggung jawab orangtua dalam mendidik sang anak. Beliau mengutip beberapa perkataan Imam Al-Ghazali tentang peran orangtua dalam mendidik anaknya. “Anak adalah amanat ditangan kedua orangtuannya.  Harinya yang suci adalah mutiara yang masih mentah belum dipahat maupun dibentuk. Apabila dibiasakan dan diajari dengan kebaikan maka dia akan tumbuh dengan kebaikan itu. namun, apabila dibiasakan dengan keburukan dan dilalaikan seperti dilalaikannya hewan, pasti anak itu akan celaka dan binasa.”

Agar orang tua tidak salah dalam memberikan bekal kepada sang buah hati, maka ada beberapa perkara yang menjadi kunci suksesnya pembekalan untuk sang anak. Kunci pertama yang harus diajarkan kepada sang buah hati adalah memperkenalkan Allah sabagia Tuhan yang telah menciptakannya. Bagi sebagian orang, mungkin terlalu dini dalam memperkenalkan Allah pada diri sang anak.

Bahkan ada yang mengatakan tidak penting memperkenalkan Allah, kelak setelah sang anak beranjak dewasa akan mengetahuai dengan sendiri siapa Tuhannya. Pendapat ini sangat menyesatkan bahkan sangat berbahaya. Karena pada dasarnya, hal yang paling utama untuk diajarkan kepada anak adalah mengenal Allah sebagai Tuhannya. Bukan mengajarkan berhitung, membaca, menulis, menyanyi dan lain sebaginya.

Orang tua yang baik tidak akan rela anaknya menjadi anak yang durhaka dan melawan perintahnya. Jika ada anak yang berbuat demikian, maka tanda tanya besar bagi kedua orangtua anak tersebut. Bisa dipastikan kedua orang tuanya tidak pernah mengajarkan anaknya untuk mengenal Allah sebagai Maha Pencipta. Allah yang maha besar. Dari sinilah sumber keburukan dan celaka, persis seperti apa yang dikatakan oleh Imam Al-Ghazali diatas.

Kemudian kunci kedua yang harus diajarkan kepada sang anak adalah cinta kepada Rasulullah, Muhammad Saw. Orangtua harus dapat membimbing sang anak untuk mengenal dan meniru bagaimana akhlak, adab dan akhlak Nabi Muhammad Saw. Tentunya, sebelum orangtua mulai mengajarkan pendidikan kepada sang anak, utamanya mereka harus belajar dahulu bagaiman kisah, sejarah dan perjuangan Rasulullah Saw.

Jangan sampai orang tua mengajarkan kecintaan kepada Rasulullah, sementara mereka sendiri tidak mengerti makna cinta dan pendidikan yang mereka ajarkan. Untuk menghindari hal tersebut, maka para orang tua wajib membaca kisah perjalanan hidup Rasulullah Saw. Agar rasa cinta kepada nabi Muhammad Saw tumbuh dalam jiwa dan perangai para orangtua, keluarga dan anaknya.

Kunci yang terakhir dalam mendidik sang anak adalah mengajarkan mereka membaca al-Qur’an. Sudah lumrah dalam lingkungan masyarakat dan keluarga, bahwa membaca al-Qur’an adalah langkah mendidik anak paling shahih. Ada dua pendapat yang kuat dalam mengajarkan sang anak membaca al-Qur’an. Pendapat pertama, disunahkan bagi sang anak untuk belajar menmbaca al-Qur’an di tempat orang lain (guru mengaji). Dan kedua belajar membaca al-Qur’an dirumah sendiri.

Pendapat pertama didasarkan kepada sunnahnya menuntut ilmu diluar tempat tinggal. Karena akan lebih mendatangkan keberkahan dalam belajar. Akan tetapi, belajar di luar rumah bukan karena kedua orangtua tidak bisa membaca Al-Qur’an (ngaji) sehingga tidak bisa mengajarkan kepada anaknya, melainkan orangtua juga dituntut harus dapat membaca Al-Qur’an, mengingat penting dan wajibnya hukum membaca Al-Qur’an bagi kaum Muslim.

Jika orangtua mengajarkan anaknya sendiri dalam membaca Al-Qur’an, maka hal itu lebih baik. Karena, dengan mudah orangtua mengontrol sang anak. Dengan mengajarkan sang anak mengaji dirumah, juga mempermudah identifikasi masalah, melihat kelemahan, kelebihan dan tindak tanduknya. Walaupun itu sebenarnya tingkah laku sang anak akan berbeda jika dia belajar diluar rumah besama teman-temannya. Intinya, jangan larang anak-anak untuk mengaji di rumah guru ngaji bersama teman-temannya. Orangtua hanya perlu mendoakan sang anak, saat sang anak akan pergi mengaji. Dan sebagai orangtua yang baik, lantunkan do’a-do’a terbaik untuk sang buah hati. Semoga niat dan do’a tersebut menjadi penolongnya dalam mencari ilmu.

Semoga kita dapat memberikan bekal pendidikan terbaik kepada anak-anak kita. Sebagai ladang pahala kita yang akan kita petik kelak di akherat. Amiin.
 
Wallahu a’lam bisshowab. 

Artikel ini juga dimuat di Panjimas dengan judul “Bekal Pendidikan Terbaik Untuk Sang Buah Hati” 
 https://www.panjimas.com/citizens/2017/11/10/bekal-pendidikan-terbaik-untuk-sang-buah-hati/

Sabtu, 22 Juni 2019

Menyoal Kebijakan 'Asing' di Bumi Pertiwi


Oleh: Fadhil Sofian Hadi
Mahasiswa Pascasarjana Unida Gontor



Sebenarnya, tidak ada niat menuangkan opini sederhana ini mengenai carut-marut permasalahan bangsa yang semakin hari semakin chaos. Utamanya, tentang realitas mahalnya harga tiket pesawat lintas nusantara yang marak belakangan ini. Namun, setelah membaca berita berbagai media online yang lalu-lalang dengan judul serampangan membuat otak ini lebar untuk berkomentar. Di tambah dengan membaca komentar pedas para netizen, protes, keluhan, ketidak setujuan, hingga pada kesimpulan mereka harus gigit jari tanpa bisa mendapat solusi.

Reaksi masyarakat awam yang membaca headline berita terutama di media-media mainstream diberbagai platform seperti Televisi, berita di internet, online, offline, cetak maupun elektronik geleng-geleng kepala bahkan terbawa gerus ungkapan ‘it doesn’t make sense!’ Itu tidak masuk akal! Alias ‘dungu’ memakai istilah RG. Pasalnya, beberapa kebijakan pemerintah atau solusi para elite negeri antah-berantah ini sepertinya ingin menjadikan ‘asing’ sebagai sumber solusi. Solusi bagi seluruh sektor bidang pertumbuhan dan pembangunan khususnya, industrialisasi negeri ini. Terlepas dari suhu perpolitikan yang sedang melahar. Benarkah negara ini sudah kekurangan atau kehilangan ahli? Sehingga, negara yang pernah menjadi Macan Asia, atau negeri yang pernah dijadikan Guru oleh negeri upin-ipin ini, selalu menggandeng ‘asing’ dalam setiap pengelolaan sektor apapun, ketimbang menyaring aspirasi para ahli negeri sendiri?

Dulu, ketika anak-anak kecil ingusan di sekolah dasar, ditanya oleh gurunya, “apa cita-citamu nak?” sang anak menjawab polos. “Aku ingin seperti Habibi, Bu guru” sang guru mengangguk mengamini. Berharap kelak anak muridnya bisa seperti Habibi. Bukan hanya sang guru, namun para orang tua juga selalu mendoakan anaknya “Semoga kelak, kamu menjadi anak pintar seperti Habibi” Batin sang Ibu. Usut punya usut, setelah beranjak dewasa, anak udik itu baru menyadari jika negara ini punya seorang ikon manusia cerdas. Pantaslah, sang ikon itu menyandang gelar sebagai manusia tercerdas di Indonesia bahkan di dunia. Dialah sang Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie sebagai penyandang gelar “Ahlinya ahli, intinya inti core of the core. Meminjam istilah pak Ndul. 

Sayangnya, kecerdasan beliau kurang mampu memberikan pengaruh terhadap gerus ‘asing’ yang masih bercokol kuat di negara tercinta. Keahlian beliau sepertinya berat diwujudkan di bumi pertiwi. Kurang bukti apalagi untuk menguji kejeniusan dan keahliannya? Cita-cita besarnya setelah kuliah di Jerman, pulang ke Tanah Air dengan harapan, mendapat dukungan pemerintah untuk proyek pesawatnya. Kandas. Bahkan tergilas. Kenapa usulan-usulan bernasnya tak di gubris? Padahal, tahun 1995 beliau telah merancang teknologi pesawat super canggih N250. Pesawat yang akan menjadi jembatan udara antar pulau antar nusantara di bumi persada ini. Namun, hingga akhir hidup beliau yang senja, hingga detik ini, perusahaan Dirgantara yang digadang mampu menyelesaikan proyek tersebut tak dapat berkutik oleh politik ‘asing’. Bangkai pesawat itu mangkrak, berkarat tak terawat.

Semua pasti sudah tahu alsannya. Jika saja pesawat N250 berhasil di produksi di tanah air, maka dunia akan mengalami ancaman serius dalam pasar bisnis penerbangan di Bumi Pertiwi. Boeing dan Airbus tak akan pernah masuk Indonesia. Boeing dan Airbus akan gigit jari. Merengek mencari pasar. Dan, secara otomatis tidak akan pernah ada dalam sejarah harga tiket pesawat  hingga 21 juta di headline berita nasional. Tak akan ada ucapan Menteri Perhubungan; “Tiket mahal, naik Bis aja” atau ungkapan “Tiket pesawat mahal, salahkan Traveloka dan Tiket.com.” Hingga kesimpulannya, presiden berfatwa “Undang maskapai ‘asing’ supaya harga tiket pesawat turun”.  

Semudah itu kata ‘asing’ itu keluar dari mulut seorang presiden? 

Sesimple itu kah? Jika mengundang maskapai ‘asing’ lantas kompetisi udara akan kelar?

Kemanakah para ahli tehnik, ahli pembangunan, ekonomi, industri, dan ahli-ahli lain yang dilahirkan oleh Universitas-universitas elite dan kampus ternama negeri ini? ITB. IPB. Bahkan ratusan kampus besar lainnya. Apakah kemampuan mereka dalam membangun dan menata negeri ini di bawah standar ‘asing’? Sehingga kejeniusan mereka tidak dilibatkan dan campakkan seperti sampah! Sebegitu pentingkah peran ‘asing’ bagi ibu pertiwi ini. Pertiwi yang merelakan anak negeri manjadi penonton, pemulung, tukang parkir, tukang ojeg, buruh, penjual remote jalanan, hingga guru-guru susah-payah mendidik, mengajar dan menancapkan cita-cita di pundak anak-anak itu, setelah tamat sekolah dan kuliah menjadi penjual martabak.

Bila ‘asing’ menjadi prioritas tak usah tanya siapa yang minoritas. Tidak sulit menjawabnya. Lihatlah manusia-manusia yang Ikhlas hidup di bawah reruntuhan rumah mereka sendiri. Mereka yang rela kelaparan di bawah kolong-kolong tambang dan pembuangan. Itulah minoritas. Minoritas di negeri mayoritas. Mayoritas yang tidak pernah menjadi prioritas. 

“Sesak sekali napas rakyat jelata.. Melihat fakta di tanah melimpah nan-kaya raya. Harta hanya milik penguasa. Haram disita atau diperiksa KaPeKa. Rakyat sudah tak berdaya. Menyaksikan drama penguasa. Buas. Rakus. Tamak nan Durjana.” Sebuah syair dari unanimous.
 
Bukan karena tidak percaya elite penguasa. Tapi, sebagai warga pribumi kami menuntut kepercayaan itu. Kepercayaan yang tidak diberikan kepada anak pribumi untuk berkontribusi memajukan bumi pertiwi. Kepercayaan yang satu-satunya menjadi harapan kami. Kepercayaan yang menjadi tumpuan hidup kami. Kepercayaan sebagai semangat tumpah dan darah kami.

Kepercayaan yang tak akan pernah kami khianati. Namun, kini kepercayaan itu di rampas ‘asing’ dicuri ‘asing’ dikelola ‘asing’ dibeli ‘asing’. Entah berapa tahun lagi, Bumi Pertiwi, akan atau menjadi milik ‘asing’ dan benar-benar semua menjadi ‘asing’. Jika sebuah kepercayaan saja mampu dirampas ‘asing’ maka tidak ada lagi yang lebih penting dari itu. Percayalah! Kecuali, hanya do’a berserah kepada yang Maha Kuasa, untuk kebaikan tanah air tercinta.

Jika keahlian sang jenius Habibi, tak dilirik oleh para elite penguasa dalam mewujudkan N250 sebagai pelopor canggih saat itu, akankah nasip pesawat dengan prototype baru R80 karya sang anak, Ilham Habibi akan bernasip sama? Tergerus? Tergilas? Oleh elite AVTUR ‘asing’ atau sebaliknya, MAMPU menjadi solusi dalam melawan hegemoni ‘asing’ di bumi pertiwi? Entahlah!

Waktu pun ragu untuk menjawab.
Wallahu’alam bisshowab. 

Artikel ini juga pernah di terbitkan di https://www.abdulmajid.id/ dengan judul “Melawan Hegemoni Asing”

Sabtu, 01 Juni 2019

Keyakinan sosok Abu Darda Uwaimir al-Anshari



 Oleh: Fadhil Sofian Hadi


Rasulullah selalu berdo’a kepada Allah.

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا.

“Ya Allah. Anugerahkanlah kepada kami rasa takut kepada-Mu, yang dapat menghalangi antara kami dan perbuatan maksiat kepada-Mu, dan (anugerahkanlah kepada kami) ketaatan kepada-Mu yang akan menyampaikan Kami ke surga-Mu dan (anugerahkanlah pula) keyakinan yang akan menyebabkan ringannya bagi kami segala musibah dunia ini.”

Kisah ini mengajarkan kita tentang kuatnya keyakinan Abu Darda Uwaimir al-Anshari akan janji Allah kepada hamba-Nya yang rela menukar hartanya di dunia dengan syurga di akherat.  Dikisahkan ketika Rasulullah memimpin kota Madinah, saat itu Rasulullah menyampaikan kepada para sahabat bahwa akan diadakan pelebaran jalan kota tersebut. Dan masyarakat umum diminta untuk merelakan sedikit bagian tanah di depan rumah mereka masing-masing untuk kemaslahatan umum.

Tanpa menunggu lama, setelah mendapat amanat para sahabat pun berpencar mengumumkan pesan dari  Rasulullah Saw dan sebagian besar warga pun menyambut baik niat dan maksud daripada Rasulullah. Selang beberapa jam, para sahabat kembali lagi ke istana setelah memberikan pengumuman penting itu. 

“Alhamdulillah kami telah menyampaikan pengumuman kepada masyarakat Madinah tentang pelebaran jalan. Mereka menyambut baik maksud dan niat Rasulullah” lapor salah seorang sahabat. “Akan tetapi, kami menemukan satu masalah wahai Rasulullah, ada salah seorang penduduk yang tidak mau memberikan separoh dari tanah pekarangan di depan rumahnya. Kami sudah menjelaskan, tapi tetap dia keras kepada tidak mau melepas separoh dari tanah itu wahai Rasulullah.”  

“Kembalilah kepadanya, dan katakan bahwa aku yang menyuruhnya” perintah Rasulullah kepada sahabat tadi. “Baiklah wahai Rasulullah” sahabat itu pun kembali kepada warga yang tidak mau mengikhlaskan separoh tanahnya untuk kepentingan umum itu. Namun sudah tiga kali sahabat itu bolak-balik, tetap saja warga itu keras kepala tidak mau memberikan sedikit tanahnya untuk kepentingan khalayak. Lantas, sahabat tadi kembali lagi melaporkan penolakan itu kepada Rasulullah.

  Mendengar laporan sahabat, dengan rasa penasaran Rasulullah pun meminta untuk diantarkan kepada warga yang menolak mewakafkan tanahnya. Setelah itu Rasulullah dan beberapa sahabat Umar, Abu Bakar termasuk Abu Darda ikut menemani di belakang Rasulullah Saw. Tanpa terasa mereka telah sampai di depan rumah warga yang membangkang itu. Rasulullah pun langsung bertanya;

“Apa gerangan yang membuat mu tidak mau memberikan separoh tanah depan rumah mu untuk kemaslahatan umum wahai hamba Allah?”

“Wahai Rasulullah, aku hanya rakyat biasa, bukanlah keinginanku membangkang perintahmu. Cobalah engkau lihat sendiri wahai Rasulullah, tanaman kurma di depan rumahku ini tumbuh lebat dan selalu berbuah lezat. Subur nan rindang. Tidak seperti tanaman kurma di belakang rumahku yang tumbuh tidak terlalu subur. Dan aku tidak ingin tanaman kurma ku ini tumbang. Inilah alasanku wahai Rasulullah. 

“Jadi itu alasanmu tidak mau melepas separoh dari tanahmu, wahai hamba Allah.”
“Benar wahai Rasulullah”
“Baiklah, bagaimana jika Allah yang akan mengganti tanaman kurma mu ini dengan tanaman pohon kurma di syurga yang lebih lebat dan berbuah lezat” Rasulullah mencoba membuat tawaran dengan pemilik kurma itu. Pemilik kurma itu menyimak dengan seksama tawaran dari Rasulullah. Tetapi selang beberapa saat dia menjawab. 

“Sekali lagi hamba mohon maaf wahai Rasulullah, hamba tetap tidak ingin menukar tanaman kurma hamba yang lebat ini dengan tanaman kurma di syurga wahai Rasulullah” jawabnya. Rasulullah terheran-heran dengan warganya itu. Sudah di janjikan dengan pohon kurma di syurga tetap saja dia tidak mau. Rasulullah kemudian membuat tawaran yang kedua kalinya. Hingga pada tawaran yang ketiga kali. Namun, tetap saja lelaki itu tidak mau melepaskan separuh tanahnya untuk kemaslahatan umum. Sahabat yang datang bersama Rasulullah nampak kesal dengan keputusan warga tersebut. 

Sesaat sebelum mereka (para sahabat) beranjak meninggalkan lelaki itu, salah seorang sahabat, yakni Abu Darda yang mendengar percakapan Rasulullah dengan pemilik pohon kurma itu, dengan penasaran Abu Darda bertanya kepada Rasulullah Saw. 

“Wahai Rasulullah. Apakah sekiranya tawaran janji balasan di syurga itu juga berlaku untukku, jika aku yang memiliki pohon kurma ini?” tanya Abu Darda kepada Rasulullah.

“Iya, itu juga berlaku untukmu wahai Abu Darda” Terang Rasulullah.  
Karena sudah tidak bisa meyakinkan warga tadi akhirnya Rasulullah pun meninggalkan tempai tersebut. Hanya Abu Darda sendiri yang masih berdiri di tempatnya. Lalu, diam-diam Abu Darda mendatangi laki-laki yang tidak mau melepas separoh tanahnya itu dan berkata; 

“Wahai sang lelaki, kau tahu siapa aku?”
 “Siapa yang tidak tahu engkau wahai Abu Darda. Orang yang kaya raya di Madinah. Tanaman dan kebun kurma mu terluas dan terlebat di kota ini” 

“Kalau kamu sudah tahu siapa aku, maka saksikanlah, saat ini juga silakan kau ambil semua kebun kurmaku. Dan ikhlaskan tanaman kurma ini untukku.” Nampak laki-laki itu tak percaya. Ia bengong. Dan berfikir pastilah Abu Darda sedang bercanda. Dengan wajah canggung lelaki itu kembali berkata kepada Abu Darda;

“Wahai Abu Darda janganlah kau bercanda. Mana mungkin kau akan menukarkan Kebun dan pohon kurma mu yang lebat itu dengan satu pohon kurma ku ini. Dan engkau memang benar-benar sedang bergurau”

“Saksikanlah. Mulai sekarang, bawalah barang-barangmu, tinggallah di sana dengan pohon kurma yang lebat itu. Dan seranag juga aku akan mengajak istriku untuk tinggal di tempatmu ini” kata Abu Darda. Maka bukan kepalang girangnya lelaki itu. Sesaat kemudian, mereka membuat akad dan kesepakatan, bahwa tanah itu telah halal menjadi milik Abu Darda.

Setelah kejadian itu, salah seorang sahabat kembali melapor kepada Rasulullah. Sahabat itu mengatakan kalau tanahnya untuk tadi sudah bisa di gunakan untuk kemaslahatan umum. Rasulullah nampak penasaran kenapa bisa demikian. Sabahat itu menjelaskan bahwa Abu Darda lah yang telah menghalalkan tanah itu.  Rasulullah pun tersenyum, “Abu Darda akan mendapatkan phon kurma yang lebat dan luas di syurga kelak”

Begitulah kuatnya keyakinan seorang Abu Darda. Dia yakin dengan janji Allah. Tak pernah ragu dengan perkataan Rasulnya. Dalam sebuah riwayat, salah seorang sahabat pernah bermimpi, jika ia melihat sebuah kebun yang indah nan rindang , seluas mata memandang. Lantas sahabat tersebut menceritakan kepada Rasulullah. “Itulah kebun kurma Abu Darda yang dijanjikan Allah di syurga” jelas Rasulullah.

Wallahua’lam Bisshowab