Kamis, 15 Maret 2018

Kritik Terhadap Buku Orientalis Barat "The Truth about Muhammad" Penulis Robert Spencer Bag 2



Oleh: Sofian Hadi
Mahasiswa Universitas Darussalam (Unida) Gontor


Tidak dapat dipungkiri tuduhan-tuduhan awam terhadap Nabi Muhammad, Al-Qur’an dan Islam  akan tetap dilontarkan oleh orientalis Barat. Hal ini sudah banyak dilakuakan semenjak dahulu. Memang upaya para orientalis untuk merespon dan mematahkan pernyataan-pernyataan dari al-Qur’an secara ilmiyah dan terus menerus. Hal ini disebabkan karena mereka berpijak pada pre-assumption Barat. Artinya, prinsip dasar bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah dan Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad Saw secara verbatim tidak menjadi asas bagi kajian mereka. Hal ini bisa dipahami, sebab dengan mengakui kerasulan Nabi Muhammad Saw berarti mereka mengakui Islam sebagai agama terkahir.[1]
            Lebih lanjut Robert Spencer menulis;
“Many observers throughout history have noted the numerous and obvious similarities between Islam and Judaism, including the “Pure” monotheism, the line of prophets, the proliferation of laws, the facing toward the holy city for prayer, and more. Muhammad no doubt had extensive contact as a young merchant, as well as later as a fledgling prophet, with the powerful Jewish tribes in and around Mecca. Muhammad respected them and sought their approval of his prophetic mission”    
Terjemahan Indonesianya;
Banyak pengamat di sepanjang sejarah telah memperhatikan banyak kesamaan antara Islam dan Yudaisme, termasuk monoteisme “murni”, urutan nabi-nabi, proliferasi hukum, arah kiblat ke kota suci saat bersembahyang, dan banyak lagi. Tidak diragukan lagi Muhammad mempunyai kontak ekstensif sebagai seorang pedagang muda, demikian pula saat ia menjadi Nabi, dengan suku-suku Yahudi yang kuat yang tinggal di dalam dan di sekitar kota Mekkah. Muhammad menghormati mereka dan berusaha mendapat restu mereka untuk misi profetis atau kenabiannya”.
Dalam paragraph ini, Spencer menerangkan sikap kesamaan uamt Islam dan kaum Yahudi atas monotheis. Jika dilihat kepada sejarah ajaran Yahudi yang disampaikan oleh nabi Musa telah banyak ditinggalkan oleh Yahudi. Jika sikap monotheis ini sama seperti Yahudi, kenapa kaum Yahudi menolak ajaran nabi Muhammad? Padahal sebenarnya keturunan Yahudi dan  keturunan Nabi Muhammad digambarkan dari antara saudara mereka sendiri. Namun pada kenyataannya Yahudi menolak menyembah kepada Allah yang satu seperti yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Maksud dari diantara saudara mereka sendiri menurut panjelasan Ahmad Deedad dalam kuliahnya yang berjudul “What the bible says about Muhammad?” Ahmad Deedad menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim mempunyai dua istri yaitu Siti Sarah dan Siti Hajar. Sarah melahirkan nabi Ishaq dan Siti Hajar melahirkan nabi nabi Ismail. Nabi Ishak melahirkan keturunan Yahudi dan nabi Ismail melahirkan keturunan Arab.[2]
 
Jika nabi Muhammad mengikuti agama Yahudi yang monotheist lantas kenapa orang-orang Yahudi tidak mau mengikuti kitab suci mereka bahwa aka nada ramalan tentang kedatangan Muhammad? Anehnya, orang Yahudi tidak mau menerima Muhammad sebagai Nabi dan membawa risalah monotheis tersebut. Kejanggalan Robet Spencer dalam menjelaskan ini terlihat dari sikap dia yang berfikir cenderung sporadis atau kacau.
Selanjutnya, penjelasan tentang direction of worship atau kiblat yang sama dengan Yahudi, memang pada awalnya arah qiblat Muslimin adalah ke Baitul Maqdis di Yarussalem. Akan tetapi, orang-orang Yahudi selalu mengejek dan mengolok-ngolok kaum muslimin yang datang beribadah ke Yarussalem. Itu karena Yahudi mempunyai sikap dan sifat sombong, selalu menganggap diri mereka sebagai anak Tuhan. Dapatlah kita melihat titik temu bahwa Yahudi lebih sombong dan tidak mau patuh kepada penciptanya. Maka hal inilah yang membuat nabi Muhammad termenung dan meminta dalam hati kepada Allah untuk pindah kea rah Kiblat yang sekarang dikenal dengan Ka’bah. Hal ini dijelaskan di dalam surat Al-Baqarah ayat 144.
قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاء فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
“Sungguh Kami (sering) melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.”[3]
Dalam paragraph terakir tentang perkataan Spencer; Muhammad no doubt had extensive contact as a young merchant, as well as later as a fledgling prophet, with the powerful Jewish tribes in and around Mecca. Muhammad respected them and sought their approval of his prophetic mission” Spencer menyebutkan bahwa Nabi Muhammad menghormati suku-suku Yahudi yang tinggal di luar dan di dalam Mekkah, dan berusaha mendapat restu untuk misi kenabiannya. Kalimat ini merupakan gagasan yang tidak mendasar. Tidak pernah nabi Muhammad sebelum masa masa kenabiannya atau setelah masa kenabiannya meminta restu dalam misi kenabiannya. Spencer hanya membuat sebuah pernyataan yang dangkal dan tidak masuk akal.

Kalau memang nabi Muhammad berusaha meminta restu untuk misi kenabiannya, maka tidaklah hal itu tidak bisa dikatakan sebagai nabi karena pada prinsipnya seorang nabi itu tidak pernah berharap meminta persetujuan dari manusia. Faktanya, nabi Muhammad tidak pernah meminta restu kepada orang Yahudi tersebut.
Tudahan yang dilontarkan oleh Spencer senada dengan apa yang di katakana oleh Peter, pendeta di Maimuma pada tahun 743 menyebut nabi Muhammad sebagai nabi palsu. Yahya  Al Dimasyqiy, atau yang lebih dikelan dengan John of Damascus (m.740)   juga menulis kedalam bahasa Yunani kuno kepada kalangan Kristen ortodoks bahwa Islam mengajarkan anti-kristus. Dia juga berpendapat bahwa Muhammad adalah Nabi penipu kepada orang arab yang bodoh.[4] Dan beberapa orientalis lain seperti Pastor Bade[5]dari Inggris juga pernah menulis hal yang sama tentang kejelekan yang sama.

Penutup
Setelah melihat beberapa konteks pembahasan yang di lontarkan oleh Robert Spencer, dalam bukunya The Truth about Muhammad, maka dapat disimpulkan bahwa kaum orientalis tidak pernah berhenti dalam melakukan pembelaan terhadap pemikiran mereka yang sebenarnya lebih berbahaya jika tidak dilawan dan diluruskan oleh para Muslim Scholar atau sarjana Muslim. Beberapa argument yang dilontarkan dalam buku ini memberikan dampak negative terutama bagi umat Muslim, dan saatnya kaum muslim mulai menulis dan memberikan pelurusan tentang beberapa fakta sejarah atas tuduhan kaum orientalis tersebut.




[1] Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi dalam kata pengantar terjemahan buku “The Islamic Invasion” Karya Robert A. Morey. Diterjemahkan oleh Sadu Suud diterbitkan oleh Focus Muslim Media.
[2] Kuliah Ahmad Deedad tentang What the Bible Say about Muhammad? Silakan akses lebih lengkap di youtube
[3] https://www.kisahislam.net/2013/12/16/kisah-perubahan-arah-kiblat-dari-baitul-maqdis-ke-kabah-2/
[4] Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi dalam kata pengantar terjemahan buku “The Islamic Invasion” Karya Robert A. Morey. Diterjemahkan oleh Sadu Suud diterbitkan oleh Focus Muslim Media.
[5] Pastor Bade, hidup pada tahun 673-735 M berpendapat bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang seorang manusia padang pasir yang liar (A wild man of desert). Bade menggambarkan Nabi Muhammad sebagi orang yang kasar, cinta perang dan biadab, buta huruf, status sosial yang rendah, bodoh tentang dogma Kristen, tamak kuasa, sehingga ia penguasa dan mengklaim sebagai seorang nabi. Begitu juga pada zaman pencerahan Barat, Voltaire  menganggap Muhammad sebagai fanatic, akstrimis, dan pendusta yang paling canggih. Tidak hanya disitu, Rasulullah dan Al-Qur’an terus menjadi target. Snouck Hurgronje mengatakan pada zaman skeptic kita sekarang ini, sangat sedikit seklai yang lepas dari kritik, dan suatu hari nanti kita mungkin mengharapkan untuk mendengar bahwa Muhammad tidak pernah ada. Harapan Hurgronje ini selanjutnya terealisasikan dalm pemikiran Klimovich yang menulis sebuah artikel diterbitkan pada tahun 1930 dengan judul “Did Muhammad exist?”dalam artikel tersebut, Klimovich menyimpulakn bahwa semua sumber informasi tentang kehidupan Muhammad adalah buatan. Muhammad adalah fiksi yang wajib kerenaselalu adanya asumsi bahwa setiap agama harus mempunyai pendiri.
Lihat kata pengantar oleh Hamid fahmi Zarkasyi, hal 41-43 dalam buku “ The Islamic Invasion” terjemahan oleh Sadu Suud oleh Hamid fahmi Zarkasyi, hal 41-43

Tidak ada komentar:

Posting Komentar